Dialog Dua Hati

coretan hati 8 Comment

Lima bulan telah berlalu dari sebuah peristiwa yang membuatku berurai airmata. Bukan airmata kesedihan tapi airmata kebahagiaan. Peristiwa yang amat aku rindukan bertahun-tahun. Saat itu hatiku seperti diselimuti rasa bahagia yang tak tertahan dan bibirku bungkam membisu karena tak mampu menggambarkan apa yang aku rasakan. Hanya syukur, hamdalah dan takbir yang bisa kuhaturkan padaNya… saat aku menemukan cintaku…

 

Sekarang ia bersamaku, seorang laki-laki shalih yang dipilihkan Allah untukku. Hidup seatap selama lima bulan ini membuatku tak hentinya berucap syukur. Seorang pemuda yang mungkin dari luar tampak biasa dan bersahaja namun aku menemukan ia adalah sosok pribadi yang luar biasa. Tak pernah ia mengeluh dengan kewajibannya sebagai seorang suami. Tak lelah ia terus bersabar membimbingku. Tak cepat ia naik pitam saat aku melakukan kesalahan.

 

Ya Allah, sungguh ia adalah anugerah terindah yang Engkau berikan untukku. Beberapa tahun aku menunggu dan berusaha bersabar meniti jalan terbaik dan akhirnya kau berikan apa yang hambamu ini butuhkan.

 

***

Pagi ini entah kenapa aku merasa badanku tidak enak. Akhir-akhir ini pun aku juga tidak seperti biasanya, cepat lelah. Perutku mual, tapi tak kuhiraukan, pagi ini aku harus menyiapkan sarapan spesial buat Mas Rahmat. Tiba-tiba terdengar suara Mas Rahmat memanggilku,

 

“ Dek lagi dimana?”

“ Di dapur Mas, ada apa?”

“ Oke, I’m coming… Nyonya Rahmat lagi masak apa nih?” tanya Mas Rahmat dengan nada manja.

“ Coba tebaaaak,,,,” jawabku sok misterius….

Mas Rahmat mengeluarkan jurus celingak-celinguknya dan dia siap menjawab, “ Hehe I know, you want to cook trasi fried rice, ya kan?”

“ Yap anda benar,, “ sambil mengacungkan dua bawang merah.

“ Lho, hadiahnya mannaaaaa?”

“ Ya udah nanti telor ceplok buat Mas dua deh,, “

“ Oke deh, dek sini biar mas aja yang ngulek bumbunya,,”

“ Biar adek aja mas, ini kan hari ahad, mas nyante aja, oke bos..” Aku merasa kepalaku semakin pusing dan rasa mualku semakin menjadi-jadi. Aku cepat-cepat berlari ke wastafel .

“ Hoeeeek,, hoeekkk….”

“ Adek kayaknya ndak enak badan, udah adek istirahat aaja biar mas yang nerusin masaknya.” Kata Mas Rahmat sambil memijat tengkukku.

“ Aku aja mas yang masak, aku pengen bikinin nasi goreng terasi kesukaan mas… Hoeek hooeekk” jawabku dengan setengah menahan mual.

“ Dek istirahat aja, penuhi hak tubuh adek, jangan sampe dzolim loh…”

“ Baiklah,,,,” Mas Rahmat membopongku menuju kamar dan menyuruhku beristirahat.

 

***

Mas Rahmat meneruskan memasak untuk sarapan pagi. Aku merasa tak tega, hari ini seharusnya dia bisa lebih santai. Aku masih merasa mual. Mata ini sulit terpejam, akhirnya aku buat berdzikir agar hati ini lebih tenang. Tak lama kemudian Mas Rahmat datang.

 

“Dek Fit, makan dulu ya, kita makan bareng disini saja. Oke?”

“ Oke bos…”

Mas Rahmat menyuapiku dengan sabar, sebenarnya aku ingin makan sendiri tapi ya sudahlah lebih baik menyenangkan hati suami.

“ Gimana dek? Udah enakan?”

“Alhamdulillah, tinggal pusing-pusing aja.”

“ Ya udah nanti mas anter ke dokter ya.”
“ Emang ahad kayak gini ada dokter yang praktek Mas?”

“ Ada dong, temen adek aja tuh di telpon pasti dia mau..”

“ Hehe Mas nih emang canggih, istilahnya memanfaatkan teman gitu…”

 

Pertama kali melihat Mas Rahmat aku mengira dia tipe-tipe orang yang super serius. Ternyata dia juga punya selera humor yang bagus.

 

Akhirnya aku menelpon mbak Asri, temanku yang juga dokter. Mbak Asri memintaku datang ke rumahnya yang sekaligus tempat prakteknya. Jam setengah sepuluh aku dan suamiku berangkat naik motor ke rumah asri di daerah Sulfat. Oh iya, saat ini aku dan suamiku tinggal dirumah ibuku didaerah blimbing. Ayah dan ibuku menempati rumah yang satunya lagi di daerah Buring. Kebetulan ayahku membuka usaha disana, jadi ayah dan ibu menyuruh kami menempati rumah disini.

 

Setelah dua puluh menit perjalanan, kami pun sampai di rumah Mbak Asri. Kami di sambut Aisha, anak semata wayang mbak Asri dan Pak Danar.

 

“ Dek Fitri, Dek Rahmat apa kabar?”

“ Baik mbak, hanya saja tadi aku mual dan muntah-muntah. Udah gitu nih pusing sampe sekarang.”

“ Ya udah, dek Fitri tak periksa dulu. Dek Rahmat sama Abinya Aisha dulu ya, jangan ikut.”

Aku dan mbak Asri masuk ke ruang periksa. Mass Rahmat dan Pak Danar ngobrol diruang tamu.

“ Dek, biasanya tanggal berapa menstruasinya?”

“ Biasanya antara tanggal 1-10 tiap bulan mbak..”

“ Sekarang tanggal 30, bulan ini sudah?” tanya mbak Asri sambil memeriksa perutku dengan alat yang entah apa namanya.

“ MasyaAlloh, bulan ini belum mbak.. Apakah aku…?”

“ Oke, silahkan duduk dulu. Dek Fitri ndak apa-apa kok. Alhamdulillah, selamat ya, adek hamil satu bulan. Ini tak kasi vitamin ya.”

“ Makasi ya mbak…”  dalam hati aku bersyukur sangat, terima kasih Ya Rabb.

 

Sesampainya di rumah, Mas Rahmat baru ingat, dia belum menanyakan sebenarnya aku tadi sakit apa.

“ Oh iya dek, gimana tadi? Apa kata mbak Asri?”

“ Alhamdulillah aku gak papa,”

“ Lho, gapapa gimana?”

“ Kata mbak Asri, didalam sini nih, ada calon manusianya.” Jawabku sambil mengusap-usap perutku.

“ Ya Allah, jadi adek hamil?” Mas Rahmat terkejut, aku hanya menganggukkan kepala. Dengan spontan mas Rahmat ssujud syukur dan kemudian mencium keningku. Hari yang sangat bahagia…

 

***

Usia kandunganku sekarang masuk pada bulan ke empat. Mas Rahmat sangat perhatian padaku dan bayi kami. Ia mengajariku untuk telaten mencatat perkembangan bayi kami. Ia menyediakan satu buku catatan yang isinya keterangan-keterangan dokter, foto USG sampai gejala-gejala misalkan aku mual dan  semua dicatat dengan lengkap. Ia juga menyiapkan satu map besar Mas Rahmat bilang “ Map ini akan terus dipakai sampai dia besar dek, semua tentang anak pertama kita harus terrekap dan tersimpan disini. Oke?”

 

Luar biasa, diantara kesibukannya suamiku masih menyediakan waktu untuk mempersiapkan semua. Setiap malam ia selalu rajin membacakan Al Qur’an untuk anak kami. Kami pun lebih rajin membaca buku-buku parenting dan menyempatkan untuk berdiskusi. dan satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah mencari referensi untuk nama bayi kami.

 

Mas Rahmat pun tak pernah absen mengantarku ke dokter kandungan setiap bulan. Dan hari ini adalah jadwal kami untuk pemeriksaan. Dengan sabar ia menungguiku, menemaniku. Saat pemeriksaan selesai pun ia dengan teliti mendengarkan apa yang dikatakan dokter, mencatatnya bahkan ia tak sungkan meminta dokter mencatatkan dibuku kami tadi dan mecatatkan juga keterangan-keterangan pada foto hasil USG.

“ Pak Rahmat dan Bu Fitri, kondisi bayinya Alhamdulillah baik, sehat, tetapi posisi placentanya menutup jalan lahir. Kemungkinan Bu Fitri nanti melahirkannya tidak bisa normal.”

Sungguh, pernyataan dokter tadi mengiris hatiku, sedih rasanya dan membuat airmata ini menetes. Setiap wanita pasti ingin persalinan pertama dilalui dengan proses yang normal.

 

***

Selesai shalat malam, aku tak kuasa menahan tangis. Mas Rahmat berbalik dan bertanya padaku.

“ Kenapa dek? Mas perhatikan adek ga seceria biasanya?”

Aku hanya bisa menangis dan semakin tersedu-sedu.

“ Adek, masih teringat kata dokter kemarin ya?”

“ I iiiyaaa mas…”

“ La Tahzan, jangan takut istriku, kita kan masih punya Allah. Kita minta pertolongan sama Allah. Apa sih yang gak mungkin..oke? udah dong jangan nangis…”

 

Keesokan harinya Mas Rahmat harus meninggalkanku sementara waktu karena harus mukhayyam. Berat hati ini bila harus ditinggal tapi aku pun harus bisa mandiri. Aku berusaha tersenyum ceria seperti biasanya.

Ketika mengantarnya ke depan pintu tak lupa aku mengajak bayiku untuk berkomunikasi dengan Abinya.

“ Abi, hati-hati dijalan ya, jangan lupa berdoa ya dan semoga diberi kelancaran…” ucapku sambil mengelus perutku yang semakin membesar.

Mas Rahmat membalasnya dengan menunduk, mencium perutku dan berucap,

“ Anakku yang shalih, baik-baik dirumah ya, jaga dan bantu ummi ya nak. Abi yakin, kamu pasti bisa. Oke… Dek jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek, kalo cuciannya banyak di laundry aja, oke.. Mas berangkat dulu yaa…

 

Selamat jalan mas, aku akan menjaga anak kita dengan cinta. Aku janji akan kuat untuk anak kita. Aku takkan berhenti berdoa…

(read more ...)



Coretan Hati

coretan hati 4 Comment

Assalammu’alaykum mujahidku….

Pa kabar belahan jiwaku? Lagi ngapain kamu sekarang?

Mujahidku,,, aku udah berusaha menahan ras a rindu ini. Aku udah berusaha menata hatiku, agar ia sabar menantimu, agar ia kuat menahan rindu ini dan kuat dalam metarbiyah diri. Tetapi,,, entah kenapa rindu ini tak bisa kuredam. . gimana dengan kamu? Apakah kamu bisa memanaje hatimu? Apa kamu bisa melakukannya melebihi aku? Wah aku malu banget sama kamu..hiks..

Mujahidku,,, dimanapun kamu berada, doakan aku ya agar aku bisa melewati ujian hati ini dan bisa menjadi mujahidahmu yang kuat. Aku ingin membuatmu bangga ketika pertemuan kita kelak tiba. Aku ingin membuatmu bahagia ketika saat indah itu tiba..

Mujahidku,, doakan aku ya… Allah sedang mentarbiyahku sekarang. Allah ingin saat kau menjemputku, aku sudah siap tuk mendampingi perjuanganmu…

Mujahidku…

Kamu doyan makan ga ya? Hehehehe aku lagi belajar masak neh,,

Kamu doyan baca buku ga ya? Aku lagi belajar suka buku neh, hehehehe….

Mujahidku. Aku sarapan dulu ya… laper banget neh :P

Udahan dulu ya…

Assalammu’alaykum,,,

4/10/2009 7:20 AM in my TV room

(read more ...)

Coretan Hati

coretan hati 2 Comment

Assalammu’alaykum, ,

Selamat pagi mujahidku,,, bagaimana kabarmu hari ini? Sudah siapkah bertempur di medan JIHAD? Sudah siapkah berbagi energi keimanan dengan objek dakwahmu?

Pagi ini kamu lagi ngapain ya??? Pastinya kamu ga tidur lagi setelah shalat subuh, apa kamu masih kuliah sekarang? Kalo masih kuliah, kamu pasti lagi belajar atau ngerjain tugas, atau malah sedang menghabiskan pagi dengan tilawah?

Mujahidku,,, sedang dimana kamu sekarang? Didekatkukah? Atau nun jauh disana? Masih misteri banget buatku neh..

Eh musim kampanye kaya gini kamu dapat amanah apa? Kamu pasti sibuk banget ya, kesana kemari direct selling, atau mungkin ikut pasang spanduk juga? Aduh kamu pasti capek banget. Emmmhhh, tapi pasti kamu tersenyum lebar, karena kamu bisa bekerja mengekspresikan cintamu untuk Allah.

Mujahidku… kapan kamu datang menjemputku?

Aku yakin, saat itu adalah saat yang terbaik untuk kita bertemu, saat yang indah,, tak tergantikan…

Aku akan terus belajar bersabar menantimu, karena bisa jadi sekarang Allah sedang menempa kita berdua. Mungkin saat ini Allah sedang mentarbiyah kita, agar kita benar2 siap untuk bertemu di saat yang menurutNya terbaik untuk kita. Allah ingin kita siap, Allah ingin pertemuan kita kelak menjadi pertemuan yang indah dan pertemuan yang mengawali perjuangan dakwah kita…

Mujahidku…

Mujahidku…

Aku sarapan ma nonton berita pagi dulu yaaaa…

Assalammu’alaykum…

Met pagi..

4/3/2009 5:44 AM in my room

 

(read more ...)

Pernikahan Sebagai Landasan Menuju Keluarga Sakinah

Uncategories 3 Comment

Oleh: Hj. Yoyoh Yusroh, SPdi.

Muqoddimah

dakwatuna.com - Dalam Annual Report tahun 2004, UNFPA sebuah badan PBB yang menangani masalah kependudukan antara lain merekomendasikan perlunya penanganan serius terhadap hubungan antar generasi yang kurang harmonis, serta perhatian lebih besar terhadap masalah remaja.

Rekomendasi tersebut tampaknya cukup beralasan bila kita cermati realitas kondisi sosial masyarakat. Di Jakarta misalnya, tawuran pelajar belum juga mereda. Penggunaan NAZA bahkan sudah merambah pedesaan, juga fakta pelacuran ABG yang membuat kita semua terperangah. Angka pengidap HIV dipercaya berkisar ratusan ribu orang sampai tahun 2010 nanti, dan akhirnya hati kita semakin terpilin perih oleh kenyataan merebaknya anak jalanan akhir-akhir ini.

Penelaahan kita pada berbagai fakta di atas membawa kita pada perkiraan “something wrong is going on“. Kita dihadapkan pada kenyataan kegelisahan sosial yang semakin bergolak. Kita melihat wajah-wajah hampa tak tentu tujuan, kita pun bisa merasakan ada hati-hati yang sepah, senyap, dan begitu asing dari kehangatan. Kita tahu itu semua. Hanya kemudian, kita belum memutuskan, apakah kita akan sungguh sungguh hadir dan menghadirkan realitas itu dalam ruang kepedulian kita?

Berbagai ekspresi ketidakseimbangan sosial yang kita lihat menggambarkan kebutuhan yang sangat mendesak terhadap situasi yang lebih kondusif sesuai fitrah manusia. Situasi yang membuat semua orang menjadi berdaya dan mampu menghadapi berbagai terpaan sosial. Situasi yang sedemikian itu, keluargalah yang mampu memberikannya.

Keluarga sebagai basis inti masyarakat, adalah wahana yang paling tepat untuk memberdayakan manusia dan ‘mencekal’ berbagai bentuk frustasi sosial, ini adalah hal yang aksiomatis dan universal. Masyarakat Eropa misalnya, saat ini para sosiolog mereka merasa gelisah karena prediksi kepunahan bangsa. Betapa tidak, tatanan, sakralitas dan antusiasme terhadap keluarga sudah tipis sekali di kalangan muda mereka. Ini tentu saja berdampak buruk terhadap angka pertumbuhan penduduk. Hingga iming-iming berbagai hadiah dan fasilitas dari pemerintah bagi ibu yang melahirkan dan keluarganya, tidak membuat mereka bergeming. Berbagai penyakit sosial pun muncul. Mulai dari angka bunuh diri yang tinggi hingga anomali kemanusiaan yang lain.

Ini adalah saat yang tepat untuk memberi perhatian yang lebih besar terhadap keluarga, khususnya dalam skala nasional. Berbagai pelajaran di atas menyuarakan hal ini. Dan ini adalah tugas kita bersama.

I. Arti Pernikahan dalam Islam

Dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata-mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sa (read more ...)

RIBA

Ekonomi_Islam 5 Comment

               Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam penjelaskan mengenai riba, namun secara umum ada penegasan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. Mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan bathil.” (Q.S. An Nisa: 29)
               Dalam kaitannya dengan pengertian al bathil dalam ayat tersebut, Ibnu Al Arabi Al Maliki, dalam kitabnya Ahkam Al Qur’an, menjelaskan:
“Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam ayat Qur’ani yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah.”

Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil. Seperti transaksi jual-beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek.

I. Jenis-Jenis Riba
               Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasi’ah.
1. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).
2. Riba Jahiliyyah
Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
3. Riba Fadhl
Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.
4. Riba Nasi’ah
Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Mengenai pembagian dan jenis-jenis riba, berkata Ibnu Hajar al Haitsami:
“Bahwa riba itu terdiri dari tiga jenis, yaitu riba fadl, riba al yaad, dan riba an nasiah. Al mutawally menambahkan jenis keempat yaitu riba al qard. Beliau juga menyatakan bahwa semua jenis ini diharamkan secara ijma’ berdasarkan nash al Qur’an dan hadits Nabi.”
 
II.Larangan Riba dalam Al Qur’an dan As Sunnah
               Ummat Islam dilarang mengambil riba apa pun jenisnya. Larangan supaya ummat Islam tidak melibatkan diri dengan riba bersumber dari berbagai surat dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah.
1.Larangan Riba dalam Al Qur’an
               Larangan riba yang terdapat dalam Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan dalam empat tahap. Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zhahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (Q.S. Ar Rum: 39).
               Tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah I mengancam memberi balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba.
“Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka yang (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q.S. An Nisa: 160-161)
               Tahap ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat, bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktekkan pada masa tersebut. Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130).
 
Ayat ini turun pada tahun ke 3 hijriyah. Secara umum ayat ini harus dipahami bahwa kriteria berlipat-ganda bukanlah merupakan syarat dari terjadinya riba (jikalau bunga berlipat ganda maka riba tetapi jikalau kecil bukan riba), tetapi ini merupakan sifat umum dari praktek pembungaan uang pada saat itu. Demikian juga ayat ini harus dipahami secara komprehensif dengan ayat 278-279 dari Surat al Baqarah .
               Tahap terakhir, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q.S. Al Baqarah: 278-279)
Ayat ini baru akan sempurna kita pahami jikalau kita cermati bersama asbabun nuzulnya. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabary meriwayatkan bahwa:
“Kaum Tsaqif, penduduk kota Thaif, telah membuat suatu kesepakatan dengan Rasulullah e bahwa semua hutang mereka, demikian juga piutang (tagihan) mereka yang ber-dasarkan riba agar dibekukan dan dikembalikan hanya pokoknya saja. Setelah Fathul Makkah, Rasulullah menunjuk Itab bin Usaid sebagai Gubernur Makkah yang juga meliputi kawasan Thaif sebagai daerah administrasinya. Adalah Bani Amr bin Umair bin Auf yang senantiasa meminjamkan uang secara riba kepada Bani Mughirah dan sejak zaman jahiliyah Bani Mughirah senantiasa membayarnya dengan tambahan riba. Setelah kedatangan Islam, mereka tetap memiliki kekayaan dan asset yang banyak. Maka datanglah Bani Amr untuk menagih hutang dengan tambahan (riba) dari Bani Mughirah - seperti sediakala - tetapi Bani Mughirah setelah memeluk Islam menolak untuk memberikan tambahan (riba) tersebut. Maka dilaporkanlah masalah tersebut kepada Gubernur Itab bin Usaid. Menanggapi masalah ini Gubernur Itab langsung menulis surat kepada Rasulullah dan turunlah ayat di atas. Rasulullah lantas menulis surat balasan kepada Gubernur Itab ‘jikalau mereka ridha dengan ketentuan Allah di atas maka itu baik, tetapi jikalau mereka menolaknya maka kumandangkanlah ultimatum perang kepada mereka.’”
 
2. Larangan Riba dalam Hadits
               Pelarangan riba dalam Islam tak hanya merujuk pada Al Qur’an melainkan juga Al Hadits. Sebagaimana posisi umum hadits yang berfungsi untuk menjelaskan lebih lanjut aturan yang telah digariskan melalui Al Quran, pelarangan riba dalam hadits lebih terinci. Dalam amanat terakhirnya pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, Rasulullah SAW masih menekankan sikap Islam yang melarang riba. “Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Dia pasti akan menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba, oleh karena itu hutang akibat riba harus di-hapuskan. Modal (uang pokok) kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan.”
               Selain itu, masih banyak lagi hadits yang menguraikan masalah riba. Di antaranya adalah:
Diriwayatkan oleh Aun bin Abi Juhaifa, “Ayahku membeli seorang budak yang pekerjaannya membekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala), ayahku kemudian memusnahkan peralatan bekam si budak tersebut. Aku bertanya kepada ayah mengapa beliau melakukannya. Ayahku menjawab, bahwa Rasulullah melarang untuk menerima uang dari transaksi darah, anjing, dan kasab budak perempuan, beliau juga melaknat pekerjaan pentato dan yang minta ditato, menerima dan memberi riba serta beliau melaknat para pembuat gambar.” (H.R. Bukhari no. 2084 kitab Al Buyu)
 
Diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa pada suatu ketika Bilal membawa barni (sejenis kurma berkualitas baik) ke hadapan Rasulullah dan beliau bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkannya ” Bilal menjawab, “Saya mempunyai sejumlah kurma dari jenis yang rendah mutunya dan menukarkannya dua sha’ untuk satu sha’ kurma jenis barni untuk dimakan oleh Rasulullah ”, selepas itu Rasulullah eterus berkata, “Hati-hati! Hati-hati! Ini sesungguhnya riba, ini sesungguhnya riba. Jangan berbuat begini, tetapi jika kamu membeli (kurma yang mutunya lebih tinggi), juallah kurma yang mutunya rendah untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma yang bermutu tinggi itu.” (H.R. Bukhari no. 2145, kitab Al Wakalah)
 
Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr bahwa ayahnya berkata, “Rasulullah melarang penjualan emas dengan emas dan perak dengan perak kecuali sama beratnya, dan membolehkan kita menjual emas dengan perak dan begitu juga sebaliknya sesuai dengan keinginan kita.” (H.R. Bukhari no. 2034, kitab Al Buyu).
 
Diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda, “Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan denga riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah.” (H.R. Muslim no. 2971, dalam kitab Al Masaqqah)
 
Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah bersabda, “Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke Tanah Suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, ‘Siapakah itu ‘ Aku diberitahu, bahwa laki-laki yang di tengah sungai itu ialah orang yang memakan riba.’ ” (H.R. Bukhari no. 6525, kitab At Ta`bir)
 
Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R. Muslim no. 2995, kitab Al Masaqqah).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah e berkata, “Pada malam perjalanan mi’raj, aku melihat orang-orang yang perut mereka seperti rumah, di dalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada Jibril siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan riba.
 
“Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, bahwa Nabi bersabda: “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Tuhan sesungguhnya berlaku adil karena tidak membenarkan empat golongan memasuki surga atau tidak mendapat petunjuk dari-Nya. (Mereka itu adalah) Peminum arak, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, dan mereka yang tidak bertanggung jawab/menelantarkan ibu bapaknya.”

 

 

(read more ...)