Lima bulan telah berlalu dari sebuah peristiwa yang membuatku berurai airmata. Bukan airmata kesedihan tapi airmata kebahagiaan. Peristiwa yang amat aku rindukan bertahun-tahun. Saat itu hatiku seperti diselimuti rasa bahagia yang tak tertahan dan bibirku bungkam membisu karena tak mampu menggambarkan apa yang aku rasakan. Hanya syukur, hamdalah dan takbir yang bisa kuhaturkan padaNya… saat aku menemukan cintaku…
Sekarang ia bersamaku, seorang laki-laki shalih yang dipilihkan Allah untukku. Hidup seatap selama lima bulan ini membuatku tak hentinya berucap syukur. Seorang pemuda yang mungkin dari luar tampak biasa dan bersahaja namun aku menemukan ia adalah sosok pribadi yang luar biasa. Tak pernah ia mengeluh dengan kewajibannya sebagai seorang suami. Tak lelah ia terus bersabar membimbingku. Tak cepat ia naik pitam saat aku melakukan kesalahan.
Ya Allah, sungguh ia adalah anugerah terindah yang Engkau berikan untukku. Beberapa tahun aku menunggu dan berusaha bersabar meniti jalan terbaik dan akhirnya kau berikan apa yang hambamu ini butuhkan.
***
Pagi ini entah kenapa aku merasa badanku tidak enak. Akhir-akhir ini pun aku juga tidak seperti biasanya, cepat lelah. Perutku mual, tapi tak kuhiraukan, pagi ini aku harus menyiapkan sarapan spesial buat Mas Rahmat. Tiba-tiba terdengar suara Mas Rahmat memanggilku,
“ Dek lagi dimana?”
“ Di dapur Mas, ada apa?”
“ Oke, I’m coming… Nyonya Rahmat lagi masak apa nih?” tanya Mas Rahmat dengan nada manja.
“ Coba tebaaaak,,,,” jawabku sok misterius….
Mas Rahmat mengeluarkan jurus celingak-celinguknya dan dia siap menjawab, “ Hehe I know, you want to cook trasi fried rice, ya kan?”
“ Yap anda benar,, “ sambil mengacungkan dua bawang merah.
“ Lho, hadiahnya mannaaaaa?”
“ Ya udah nanti telor ceplok buat Mas dua deh,, “
“ Oke deh, dek sini biar mas aja yang ngulek bumbunya,,”
“ Biar adek aja mas, ini kan hari ahad, mas nyante aja, oke bos..” Aku merasa kepalaku semakin pusing dan rasa mualku semakin menjadi-jadi. Aku cepat-cepat berlari ke wastafel .
“ Hoeeeek,, hoeekkk….”
“ Adek kayaknya ndak enak badan, udah adek istirahat aaja biar mas yang nerusin masaknya.” Kata Mas Rahmat sambil memijat tengkukku.
“ Aku aja mas yang masak, aku pengen bikinin nasi goreng terasi kesukaan mas… Hoeek hooeekk” jawabku dengan setengah menahan mual.
“ Dek istirahat aja, penuhi hak tubuh adek, jangan sampe dzolim loh…”
“ Baiklah,,,,” Mas Rahmat membopongku menuju kamar dan menyuruhku beristirahat.
***
Mas Rahmat meneruskan memasak untuk sarapan pagi. Aku merasa tak tega, hari ini seharusnya dia bisa lebih santai. Aku masih merasa mual. Mata ini sulit terpejam, akhirnya aku buat berdzikir agar hati ini lebih tenang. Tak lama kemudian Mas Rahmat datang.
“Dek Fit, makan dulu ya, kita makan bareng disini saja. Oke?”
“ Oke bos…”
Mas Rahmat menyuapiku dengan sabar, sebenarnya aku ingin makan sendiri tapi ya sudahlah lebih baik menyenangkan hati suami.
“ Gimana dek? Udah enakan?”
“Alhamdulillah, tinggal pusing-pusing aja.”
“ Ya udah nanti mas anter ke dokter ya.”
“ Emang ahad kayak gini ada dokter yang praktek Mas?”
“ Ada dong, temen adek aja tuh di telpon pasti dia mau..”
“ Hehe Mas nih emang canggih, istilahnya memanfaatkan teman gitu…”
Pertama kali melihat Mas Rahmat aku mengira dia tipe-tipe orang yang super serius. Ternyata dia juga punya selera humor yang bagus.
Akhirnya aku menelpon mbak Asri, temanku yang juga dokter. Mbak Asri memintaku datang ke rumahnya yang sekaligus tempat prakteknya. Jam setengah sepuluh aku dan suamiku berangkat naik motor ke rumah asri di daerah Sulfat. Oh iya, saat ini aku dan suamiku tinggal dirumah ibuku didaerah blimbing. Ayah dan ibuku menempati rumah yang satunya lagi di daerah Buring. Kebetulan ayahku membuka usaha disana, jadi ayah dan ibu menyuruh kami menempati rumah disini.
Setelah dua puluh menit perjalanan, kami pun sampai di rumah Mbak Asri. Kami di sambut Aisha, anak semata wayang mbak Asri dan Pak Danar.
“ Dek Fitri, Dek Rahmat apa kabar?”
“ Baik mbak, hanya saja tadi aku mual dan muntah-muntah. Udah gitu nih pusing sampe sekarang.”
“ Ya udah, dek Fitri tak periksa dulu. Dek Rahmat sama Abinya Aisha dulu ya, jangan ikut.”
Aku dan mbak Asri masuk ke ruang periksa. Mass Rahmat dan Pak Danar ngobrol diruang tamu.
“ Dek, biasanya tanggal berapa menstruasinya?”
“ Biasanya antara tanggal 1-10 tiap bulan mbak..”
“ Sekarang tanggal 30, bulan ini sudah?” tanya mbak Asri sambil memeriksa perutku dengan alat yang entah apa namanya.
“ MasyaAlloh, bulan ini belum mbak.. Apakah aku…?”
“ Oke, silahkan duduk dulu. Dek Fitri ndak apa-apa kok. Alhamdulillah, selamat ya, adek hamil satu bulan. Ini tak kasi vitamin ya.”
“ Makasi ya mbak…” dalam hati aku bersyukur sangat, terima kasih Ya Rabb.
Sesampainya di rumah, Mas Rahmat baru ingat, dia belum menanyakan sebenarnya aku tadi sakit apa.
“ Oh iya dek, gimana tadi? Apa kata mbak Asri?”
“ Alhamdulillah aku gak papa,”
“ Lho, gapapa gimana?”
“ Kata mbak Asri, didalam sini nih, ada calon manusianya.” Jawabku sambil mengusap-usap perutku.
“ Ya Allah, jadi adek hamil?” Mas Rahmat terkejut, aku hanya menganggukkan kepala. Dengan spontan mas Rahmat ssujud syukur dan kemudian mencium keningku. Hari yang sangat bahagia…
***
Usia kandunganku sekarang masuk pada bulan ke empat. Mas Rahmat sangat perhatian padaku dan bayi kami. Ia mengajariku untuk telaten mencatat perkembangan bayi kami. Ia menyediakan satu buku catatan yang isinya keterangan-keterangan dokter, foto USG sampai gejala-gejala misalkan aku mual dan semua dicatat dengan lengkap. Ia juga menyiapkan satu map besar Mas Rahmat bilang “ Map ini akan terus dipakai sampai dia besar dek, semua tentang anak pertama kita harus terrekap dan tersimpan disini. Oke?”
Luar biasa, diantara kesibukannya suamiku masih menyediakan waktu untuk mempersiapkan semua. Setiap malam ia selalu rajin membacakan Al Qur’an untuk anak kami. Kami pun lebih rajin membaca buku-buku parenting dan menyempatkan untuk berdiskusi. dan satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah mencari referensi untuk nama bayi kami.
Mas Rahmat pun tak pernah absen mengantarku ke dokter kandungan setiap bulan. Dan hari ini adalah jadwal kami untuk pemeriksaan. Dengan sabar ia menungguiku, menemaniku. Saat pemeriksaan selesai pun ia dengan teliti mendengarkan apa yang dikatakan dokter, mencatatnya bahkan ia tak sungkan meminta dokter mencatatkan dibuku kami tadi dan mecatatkan juga keterangan-keterangan pada foto hasil USG.
“ Pak Rahmat dan Bu Fitri, kondisi bayinya Alhamdulillah baik, sehat, tetapi posisi placentanya menutup jalan lahir. Kemungkinan Bu Fitri nanti melahirkannya tidak bisa normal.”
Sungguh, pernyataan dokter tadi mengiris hatiku, sedih rasanya dan membuat airmata ini menetes. Setiap wanita pasti ingin persalinan pertama dilalui dengan proses yang normal.
***
Selesai shalat malam, aku tak kuasa menahan tangis. Mas Rahmat berbalik dan bertanya padaku.
“ Kenapa dek? Mas perhatikan adek ga seceria biasanya?”
Aku hanya bisa menangis dan semakin tersedu-sedu.
“ Adek, masih teringat kata dokter kemarin ya?”
“ I iiiyaaa mas…”
“ La Tahzan, jangan takut istriku, kita kan masih punya Allah. Kita minta pertolongan sama Allah. Apa sih yang gak mungkin..oke? udah dong jangan nangis…”
Keesokan harinya Mas Rahmat harus meninggalkanku sementara waktu karena harus mukhayyam. Berat hati ini bila harus ditinggal tapi aku pun harus bisa mandiri. Aku berusaha tersenyum ceria seperti biasanya.
Ketika mengantarnya ke depan pintu tak lupa aku mengajak bayiku untuk berkomunikasi dengan Abinya.
“ Abi, hati-hati dijalan ya, jangan lupa berdoa ya dan semoga diberi kelancaran…” ucapku sambil mengelus perutku yang semakin membesar.
Mas Rahmat membalasnya dengan menunduk, mencium perutku dan berucap,
“ Anakku yang shalih, baik-baik dirumah ya, jaga dan bantu ummi ya nak. Abi yakin, kamu pasti bisa. Oke… Dek jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek, kalo cuciannya banyak di laundry aja, oke.. Mas berangkat dulu yaa…